Maafkan Anak dan Cucumu Kek, Nek

18 Feb 2017

Ilustrasi

Rasanya berat memang jika harus menceritakan hal ini. Bingung rasanya menyusun kata menjadi kalimat ketika ingin menceritakan hal ini. Gelar sebagai seorang Blogger dirasa tidak lagi pantas disematkan saat mencoba menyusun kalimat menjadi paragraf untuk menceritakan hal ini. Aku akui bahwa aku tidak pandai dalam menyusun kata-kata. Dan ketidak pandaian ini semakin menjadi-jadi ketika aku harus menceritakan hal ini. Ketika perasaan menguasai pikiran, sulit rasanya memilih kata apa yang pertama mesti aku tulis.

Saat membahas seputar Bahagia di Hari Tua, ingatan terhadap kakek dan nenekku muncul di benakku. Terutama mengenai kakek dan nenek dari pihak ayah yang sudah tidak lagi bersamaku di dunia. Kakekku meninggal tahun lalu dan nenekku sudah meninggal lebih dulu beberapa tahun yang lalu saat aku masih kecil, untuk persisnya aku sendiri sudah lupa. Iya, aku lupa. Disini bisa dilihat bukan, bahwa aku bukanlah cucu yang baik untuk mereka. Untuk kapan mereka ‘pergi’ saja seakan aku tidak peduli.

Aku sendiri merasa terpukul dengan takdir ini. Aku bukan kecewa akan takdirnya, aku kecewa karena aku belum bisa melakukan yang terbaik sebelum takdir ini tiba. Kakek dan nenekku meninggal bukan soal usia semata. Mereka menderita sakit, terutama nenek. Ia bahkan tidak mampu untuk sekedar duduk, apalagi berdiri dan berjalan. Saat itu aku sendiri masih belum bisa berbuat apa-apa. Usiaku saat itu masih sangat belia. Yang bisa aku berikan pada dia saat itu hanyalah do’a.

Saat ajal menjemput dia dan sampai kini, aku ingin menjadi orang terdekat yang memberikan do’a terbanyak untuk dia. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi alasan untuk aku tidak menghaturkan do’a untuk dirinya. Begitu juga dengan kakek. Kakekku ini memang tidak menderita sakit yang begitu parah. Usia memang yang lebih banyak ‘bicara’. Saat itu, ia masih mampu untuk berjalan meskipun harus dengan tuntunan tangan anak dan cucunya.

Namun, saat usianya mesti berakhir, bukan berarti kesedihanku tidak sama saat nenek ‘pergi’ lebih dulu. Bagaimana aku tidak sedih ketika untuk kedua kalinya aku kehilangan orang yang membesarkan ayahku ? Mustahil rasanya untuk mengatakan “aku tidak sedih”. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa kesedihan ini bukan karena mereka telah ‘pergi’ mendahuluiku. Namun, karena aku belum bisa membahagiakan mereka di usia tuanya.

Sebelum mereka ‘pergi’, nenek adalah seorang pedagang dipasar dan kakek adalah seorang buruh bangunan. Namun, keinginan mereka untuk membahagiakan anak dan cucunya lebih besar dari keadaannya saat itu. Bahkan seolah-olah mereka lebih sering membuat kami tersenyum bahagia dibanding anak cucunya yang seharusnya mampu membuat mereka bahagia di usia tuanya.

Latar belakang keluarga dari kakek dan nenek bukanlah orang yang hidup dengan bergelimang harta. Kami hidup bahagia karena keluarga, bukan harta. Besar rasanya keinginan untuk membahagiakan mereka dengan materiil, meskipun bahagia tidak melulu tentang materiil. Dan kami menyadari bahwa sebetulnya mereka tidak menuntut anak cucunya memberikannya banyak materiil. Kakek dan nenekku lebih mengedepankan aspek kebahagiaan non-materiil, seperti kebersam. Karena hal inilah bahagia yang sesungguhnya. Dan karena hal ini pula yang membuat kami semakin mencintai mereka.

Akan tetapi, kini aku dan keluarga tetap saja merasa tidak mampu untuk membahagiakan mereka berdua di usia tuanya. Penyesalan adalah hal yang paling aku benci. Aku berharap mereka berdua bisa bahagia ‘disana’, meskipun aku dan keluarga merasa belum bisa membahagiakannya.

Untuk semua yang berkesempatan membaca tulisan blog ini, saya harap semoga anda mampu membahagiakan diri anda sendiri dan juga orang lain yang anda sayangi di masa tuanya nanti. Kita memang tidak tahu sampai kapan jantung kita berdetak. Namun, sebagai manusia biasa, sekarang kita hanya mampu untuk mempersiapkan kebahagi itu. Karena penyesalan akan selalu datang di akhir.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan kebahagi kita di masa tua nanti. Semuanya bersumber dari diri sendri. Bahagia yang sesungguhnya dapat kita capai ketika kita mampu ‘mengelola’ dan ‘memogram’ hati, jiwa dan pikiran kita supaya selaras. Namun, selain dengan mengikuti ‘pengelolaan’ dan ‘program’ dari diri sendiri, tidak ada salahnya jika kita mengikuti program dari pemerintah melalui BPJS Ketenagakerjaan.

Melalu program jaminan hari tua dan jaminan pensiun, pemerintah sangat peduli dengan masa tua semua rakyatnya, terutama pekerja. Adanya program ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita sebagai seorang manusia untuk mempersiapkan kebahagi kita di masa tua nanti. Yang memberikan kebahagiaan memang hanyalah Tuhan semata. Namun, jika kita hanya berdiam diri menunggu masa tua kita tanpa ada upaya, masih rasionalkah kebahagiaan itu akan datang ?

Semoga bermanfaat. Terima kasih. Sampai jumpa.


TAGS lifestyle pensiun


-

Profil Penulis

Nanda Restu Utama
@nrutama
restunandautama@gmail.com

Blogger pelajar yang memiliki hobi menulis di blog. | Twitter @nrutamaofficial | Facebook : Nanda Restu Utama : Pinterest : @nrutama | LinkedIn : @nrutama | Official Blog :nrutama.blogspot.com.

Follow Me

Search

ARSIP